Dasar-Dasar Yoga Yama dan Niyama
Dasar-Dasar Yoga Yama dan Niyama
Syarat Awal dalam Yoga
“Pengetahuan (Jnana) tidak bisa diperoleh hanya dengan mempraktikkan metode yoga saja. Kesempurnaan dalam pengetahuan sebenarnya hanya bisa didapat oleh mereka yang terlebih dahulu menjalankan kebajikan (dharma). Namun, tanpa yoga sebagai alatnya, pengetahuan juga tidak bisa tercapai. Praktik yoga bukanlah tujuan akhir, tetapi justru dari sanalah kesempurnaan dalam pengetahuan dapat diperoleh. Oleh karena itu, para guru mengatakan: ‘Yoga bertujuan untuk memahami kebenaran.'” Demikian tulis Shankara.
Semua hal di dunia ini bergantung pada sesuatu yang lain, karena segala sesuatu membutuhkan dasar untuk bisa eksis. Hanya Tuhan yang merupakan satu-satunya yang tidak membutuhkan dasar, karena Dialah penopang segalanya. Yoga juga memerlukan dasar yang kuat. Seperti yang dikatakan Trevor Leggett dalam pengantarnya untuk komentar Shankara tentang Yoga Sutra: “Ini adalah yoga yang diajarkan untuk orang yang hidup di dunia, yang harus membersihkan dan menstabilkan pikirannya dari dorongan hawa nafsu yang menyesatkan serta membebaskan dirinya dari keterikatan duniawi.” Patanjali dengan sangat rinci menjelaskan elemen-elemen yang diperlukan agar seorang pencari spiritual berhasil dalam yoga.
Sutra pertama dalam Yoga Sutra berbunyi: “Sekarang, mari kita mulai pembahasan tentang yoga,” yang menunjukkan bahwa ada hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum benar-benar masuk ke dalam praktik yoga. Hal-hal yang harus dipersiapkan ini dikenal sebagai pilar utama yoga, yaitu Yama dan Niyama.
Yama dan Niyama
Yama dan Niyama sering disebut sebagai “Sepuluh Perintah dalam Yoga.” Yama terdiri dari lima larangan atau pengendalian diri, sementara Niyama terdiri dari lima hal yang harus dilakukan. Berikut adalah daftar lengkapnya sesuai dengan Yoga Sutra 2:30-32:
1) Ahimsa: Tidak melakukan kekerasan, tidak menyakiti, tidak merugikan
2) Satya: Kejujuran, berkata benar
3) Asteya: Tidak mencuri, tidak mengambil hak orang lain
4) Brahmacharya: Mengendalikan hasrat seksual, mengontrol panca indera
5) Aparigraha: Tidak serakah, tidak materialistis, tidak mementingkan diri sendiri
6) Shaucha: Kebersihan, kemurnian
7) Santosha: Merasa cukup, hidup damai
8) Tapas: Disiplin diri, latihan spiritual yang memberikan hasil nyata
9) Swadhyaya: Belajar tentang diri sendiri, membaca kitab suci
10) Ishwarapranidhana: Menyerahkan hidup kepada Tuhan
Semua aspek ini berkaitan dengan kekuatan bawaan manusia. Lebih tepatnya, Yama dan Niyama membantu kita mengembangkan potensi diri dan mengarahkannya pada penyempurnaan spiritual, kesadaran diri, dan kebebasan sejati.
Sepuluh aturan ini bukanlah pilihan bagi mereka yang ingin serius mendalami yoga, bahkan bagi para yogi yang sudah maju pun tetap harus menjalankannya. Shankara menegaskan bahwa “mengikuti Yama dan Niyama adalah syarat dasar untuk berlatih yoga.” Hanya sekadar ingin berlatih yoga tidak cukup. Ia mengutip ayat dalam Katha Upanishad: “Mereka yang belum meninggalkan keburukan, yang pikirannya belum tenang, dan yang tidak bisa mengendalikan diri, tidak akan pernah bisa mencapai Kesadaran Diri hanya dengan pengetahuan saja.”
Namun, di sisi lain, praktik yoga juga membantu kita dalam menjalankan Yama dan Niyama. Jadi, jangan berpikir bahwa kita harus menjadi sempurna terlebih dahulu sebelum memulai yoga. Justru, kita harus menjalankan Yama, Niyama, dan yoga secara bersamaan. Dengan begitu, kesuksesan akan lebih mudah diraih.
Dasar-Dasar Yoga, Bagian 2: Ahimsa (Tidak Menyakiti)
Ahimsa: Tidak melakukan kekerasan, tidak menyakiti, tidak merugikan
Dalam komentarnya tentang Yoga Sutra, Vyasa menulis: “Ahimsa berarti tidak menyakiti makhluk hidup dengan cara apa pun dan kapan pun.” Shankara menambahkan bahwa Ahimsa berarti “tidak melukai dalam bentuk apa pun, baik melalui tindakan, perkataan, maupun pikiran.” Hal ini sejalan dengan ajaran Yesus yang menyatakan bahwa kemarahan terhadap orang lain adalah bentuk pembunuhan secara batin (Matius 5:21-22).
Memahami hukum karma membuat kita sadar akan akibat buruk dari kekerasan. Vyasa menjelaskan bahwa seseorang yang membunuh akan mengalami penderitaan yang sama seperti yang ia sebabkan pada korbannya. Oleh karena itu, Ahimsa bukan hanya sekadar menghindari tindakan fisik yang menyakiti, tetapi juga mencakup kata-kata dan pikiran kita.
Ahimsa juga berarti tidak melakukan kekerasan terhadap diri sendiri. Seorang yogi harus menghindari hal-hal yang merusak tubuh, pikiran, dan jiwanya. Ini termasuk menghindari konsumsi daging, alkohol, rokok, dan zat adiktif lainnya. Sebaliknya, seorang yogi harus menjalankan pola hidup yang sehat dan positif.
Meskipun sulit untuk tidak menyakiti makhluk hidup sama sekali, kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi dampak buruk yang kita timbulkan. Seperti yang dikatakan oleh Swami Yukteswar, “Ahimsa bukan hanya tentang tidak menyakiti, tetapi juga tentang tidak memiliki keinginan untuk menyakiti.”
Dasar-Dasar Yoga, Bagian 3: Satya (Kejujuran, Kebenaran)
Satya: Kejujuran, Kebenaran
Dalam ajaran yoga, kejujuran atau satya sangat penting. Vyasa mendefinisikan satya sebagai “ucapan dan pikiran yang sesuai dengan kenyataan, yang diperoleh dari pengalaman pribadi atau sumber yang terpercaya.” Shankara menambahkan bahwa satya bukan hanya berkata benar, tetapi juga menyampaikan kebenaran dengan niat baik, bukan untuk menyakiti.
Ketidakjujuran dalam bentuk apa pun membuat kita tidak selaras dengan hukum kebenaran dan menciptakan tekanan mental yang menghalangi perkembangan spiritual kita. Taimni menulis bahwa “ketidakjujuran dalam bentuk apa pun akan menghambat intuisi kita dan membuat pikiran kita tidak tenang.”
Seorang yogi tidak boleh memutarbalikkan fakta atau menyampaikan informasi dengan cara yang menyesatkan. Kebenaran harus disampaikan dengan penuh kebijaksanaan dan tanpa niat buruk. Oleh karena itu, dalam menjalankan satya, kita harus berhati-hati agar kejujuran kita tidak menjadi alat untuk menyakiti orang lain.
Yama dan Niyama adalah dasar dari perjalanan yoga. Tanpa menjalankan keduanya, perjalanan spiritual kita tidak akan stabil. Dengan memahami dan menerapkan Ahimsa serta Satya dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa semakin mendekati kesadaran diri dan kebebasan sejati.